1 post tagged “pengamen”
Sudah beberapa bulan ini aku langanan untuk rute metro mini 62 jurusan Pasar Minggu-Manggarai lalu dilanjutkan dengan metro mini 49 jurusan Pulo Gadung-Manggarai. Banyak pengalaman yang berbeda setiap hari, seperti kalau sepi banget penumpangnya kita dengan seenak perutnya sopir dipindahin ke bis lain yang sebagian besar sudah terisi penumpang, sehingga kita yang tadinya duduk 'dipaksa' untuk berdiri. Kalau nggak mau, kita akan dimaki-maki ama dengan supir yang sebagian besar juga mulutnya nggak disekolahin sampai universitas.
Atau mungkin ada pengalaman yang lain, dimana kalo antara satu bis dengan bis yang lain saling berdekatan, mulailah mereka saling menyerempet-menyerempet, meraung-raungkan mesin knalpot dan sekali lagi juga saling menyebutkan semua isi kebun binatang yang sekali lagi menurut saya karena memang mulut mereka tidak disekolahin.
Lain supir/ kernet lain pula fenomena yang saya lihat menyangkut pengamen yang sekarang sudah makin banyak sekali macamnya. Dari yang bawa anak atau adiknya, pengamen dengan asesori anak PUNK, orang gila yang menjadi pengamen, atau pegamen yang jadi orang gila.
Untuk pengamen anak kecil, memang saya masih memilih-milih untuk memberikan upah dari nyanyiannya dengan menggunakan krecekan ataupun tangannya. Karena setiap kali memandang mereka aku akan 'memaki' orang tua mereka yang memberikan keadaan kepada mereka sehingga mereka harus berada disana. Sering kali ketika mereka mulai menyanyi aku akan memandang keluar jendela dan berusaha sedikit mungkin mengurangi makian saya di kepala. (kenapa memandang keluar jendela? karena sering kali saya kalo sendirian akan memilih duduk dekat jendela). Sejak saya membaca tentang banyak anak jalanan yang saat ini walaupun sudah berusaha ditarik tapi tetap kembali lagi ke jalanan, karena memang merasa 'penghasilan' yang mereka dapatkan cukup besar dari jalanan. Jadi kalau saya tidak salah ada kampanye 'Jangan berikan uang' yang diusung salah satu badan PBB membuat saya kebanyakan tidak memberikan upah kepada mereka. Tapi kalau rasa kasihan atau rasa kesal yang luar biasa sedang mengisi hati ini maka ujung-ujungnya upah saya berikan :(
Sedangkan kalo untuk pengamen yang sudah lumayan gede, saya lebih memilih untuk melihat lagunya dulu dan kemerduan suara mereka. Kalau untuk mereka saya berpikir bahwa paling tidak mereka tidak memaksa untuk meminta upah,tetapi juga mereka berusaha memberikan atraksi yang menarik dengan membawa drum, biola atau memberikan nada-nada alternatif seperti suara dua atau suara tiga :D
Tapi yang paling menyebalkan kalo orang gila jadi pengamen, atau pengamen yang ujung-ujungnya jadi orang gila. Kategorui ini saya masukkan untuk pengamen yang tidak jelas, mau nyanyikah tapi suara do re mi-nya nggak jelas. Mau main musikkah tapi petikan gitarnya gawur atau tepuk tangannya tak bertenaga. Mau belas kasihankah tapi mukanya menunjukkan kekesalan ketika menyanyi. Kenapa saya bilang GILA! karena selain cara minta duitnya dengan mencolek, mengeluarkan lidah, sampe bisa jadi mengeluarkan organ intimnya (karena sebagian besar pengamen adalah laki-laki, mengertikan maksud saya bagian yang mana!) *geleng-geleng*
Kalau yang menakutkan yah pengamen yang mabuk berasesori Punk :( (tidak semua tapi yah....!!)
karena kalo nggak dikasih upahnya mereka akan marah-marah dan nggak akan pergi kalo belum dikasih. Dan akan minta 1000 atau lebih.... Alasan mereka 'Bapak ibu sekaliankan beruntung bisa bekerja dan sekarang pulang, sedangkan kami tidak pak bu.....'
Nggak tahu apa yah mereka kalau untuk mendapatkan pekerjaan harus berapa ratus atau ribuan surat lamaran harus dikirimkan, berapa banyak interview yang harus dilakukan, belum lagi tes-tes yang beribet, belum lagi makian-makian bos, konflik dengan rekan sekerja dll.
Sama-sama orang bawah kok, kita yang pegawai ini masih naik metro mini karena belum bisa naik taxi, harus berhemat karena uang 100 perak aja berharga buat makan besok.
Semua orang punya masalahnya masing-masing, janganlah saling mengukur kesusahan
*sigh*
S0.....TO BE CONTINUED